APLIKASI TEORI BELAJAR THORNDIKE PDF

Pengertian Belajar Perubahan tingkahlaku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon Bentuk perubahan yg dialami siswa dalam hal kemampuannya dg cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Faktor penting dalam belajar behavioristik Masukan atau input, yang berupa stimulus Keluaran atau output, yang berupa respon Faktor penguatan reinforcement baik positive reinforcement maupun negative reinforcement. Teori Belajar menurut Thorndike Belajar adalah proses interaksi antara stimulus yg berupa rangsangan, seperti pikiran, perasaan yg dapat ditangkap indera dengan respon. Hasil belajar dapat berupa tingkahlaku yang konkrit, yg dapat diamati dan tidak konkrit. Teori ini disebut juga aliran koneksionisme connectionism 3. Teori Belajar menurut Watson Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun S-R, harus berbentuk tingkahlaku yang dapat diamati observable dan dapat diukur.

Author:Mikazragore Shaktihn
Country:French Guiana
Language:English (Spanish)
Genre:Relationship
Published (Last):6 May 2017
Pages:190
PDF File Size:2.62 Mb
ePub File Size:12.19 Mb
ISBN:900-8-58966-115-1
Downloads:19444
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Arashisho



To browse Academia. Skip to main content. By using our site, you agree to our collection of information through the use of cookies. To learn more, view our Privacy Policy. Log In Sign Up. Vio Mareng. Sumber Pertama Pengkondisian klasik mencakup belajar untuk mengasosiasikan stimulus berkondisi yang sudah membawa respon tertentu misalnya refleks dengan baru stimulus AC , sehingga stimulus baru membawa respon yang sama.

Classic conditioning pengkondisian atau persyaratan klasik adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.

Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang anjing karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing.

Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liur pun akan keluar.

Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat kondisi untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa inidisebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.

Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.

Adapun jalan eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut: Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap- tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan. Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur.

Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depannya. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Mula-mula air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan refleks tak berkondisi , tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel.

Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai refleks berkondisi conditioned reflects, karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus-menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi conditioned reflects. Kalau latihan itu diteruskan, maka pada suatu waktu keluarnya air liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu.

Dengan perkataan lain, refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi. Pada tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala, maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan.

Demikianlah satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan. Tentu saja tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu, karena terlalu lama tidak adarangsang tak berkondisi, binatang percobaan itu tidak akan mendapat imbalan reward atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu refleks itu makin lama akan semakin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusanreflex extinction.

Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning conditioning process di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama- kelamaandihubungkandenganrangsanganberkondisi.

Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan: 1. Stimulus tidak terkondisi UCS , suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaandapatmenimbulkanrefleksorganismik.

Stimulus terkondisi CS , Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi UCS. Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang dipasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupamakanan. Respons tidak terkondisi UCR , refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur.

Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan. Sumber Kedua Bentuk paling sederhana dalam belajar adalah conditioning. Karena conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli sering mengambilnya sebagai contoh untuk menjelaskan dasar dasar dari semua proses belajar.

Peletak dasar teori conditioning adalah Ivan Petrovich Pavlov. Secara kebetulan Conditioning refleks psychic refleks ditemukan oleh Pavlov pada waktu ia sedang mempelajari fungsi perut dan mengukur cairan yang dikeluarkan dari perut ketika anjing sebagai binatang percobaannya sedang makan. Ketika Pavlov mengukur sekresi perut saat anjing merespon bubuk makanan dia melihat bahwa hanya dengan melihat makanan telah menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Selain itu ketika anjing mendengar langkah kaki peneliti juga mengeluarkan air liur.

Gambar 1. Selang yang dimasukkan lewat pipi anjing. Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang memungkinkan organisme memberikan respon terhadap suatu rangsang yang sebelumnya tidak menimbulkan respon itu, atau suatu proses untuk mengintroduksi berbagai reflek menjadi sebuah tingkah laku. Jadi classical conditioning sebagai pembentuk tingkah laku melalui proses persyaratan conditioning process.

Suara, tentu saja secara normal tidak akan menyebabkan anjing berliur, tetapi setelah dipasangkan dengan larutan asam, suara memiliki kemampuan untuk menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Pengeluaran air liur akibat mendengarkan suara adalah CR.

Contoh lainnya dalam pembelajaran. Ketika praktik didalam laboratorium guru menyuruh siswa membuka aplikasi excell US , dan guru mengetik pada excell CS kemudian siswa membuka aplikasi excell seperti yang diperintahkan guru dan mengetik sesuai dengan contoh UR , dan perilaku tersebut dilakukan guru dalam dua pertemuan, ketika pertemuan ke tiga guru langsung mengetik dokumen pada excell CS dan secara langsung siswa mengikuti membuka aplikasi excell dan mengetik di excell tanpa disuruh CR.

Seandainya CS tidak dipasangkan dengan US maka siswa akan kebingungan dan bertanya maksud guru mengetik seperti yang dicontohkan. Contoh: Kedipan cahaya CS dengan penyajian makanan US setelah beberapa kali dipasangkan penyajian cahaya saja akan menyebabkan anjing mengeluarkan liur sebagai respon yang dikondisikan CR.

Sekarang kedipan cahaya itu CS1 sudah dapat menimbulkan air liur dan dapat dipasangkan dengan CS kedua misal suara dengungan dan dikondisikan sama dengan awal. Suara dengungan disajikan CS2 dan kemudian disajikan cahaya,tetapi dalam pengkondisian kedua penyajian makanan US sudah tidak dipakai. Setelah beberapa kali dipasangkan dengungan suara CS2 saja sudah menyebabkan hewan mengeluarkan air liur. JOHN B. In this article, Watson outlined the major features of his new philosophy of psychology, called "behaviorism".

The first paragraph of the article concisely described Watson's behaviorist position: "Psychology as the behaviorist views it is a purely objective experimental branch of natural science.

Its theoretical goal is the prediction and control of behavior. Introspection forms no essential part of its methods, nor is the scientific value of its data dependent upon the readiness with which they lend themselves to interpretation in terms of consciousness.

The behaviorist, in his efforts to get a unitary scheme of animal response, recognizes no dividing line between man and brute. The behavior of man, with all of its refinement and complexity, forms only a part of the behaviorist's total scheme of investigation.

He had already rejected Edward L. Thorndike's "Law of Effect" a precursor to B. Skinner's principle of reinforcement due to what Watson believed were unnecessary subjective elements. It was not until that Watson would recognize the more general significance of Pavlov's formulation and make it the subject of his presidential address to the American Psychological Association. The article is also notable for its strong defense of the objective scientific status of applied psychology, which at the time was considered to be much inferior to the established structuralist experimental psychology.

In his opinion, the analysis of behaviors and reactions was the only objective method to get insight in the human actions. This outlook, combined with the complementary ideas of determinism, evolutionary continuism, and empiricism has contributed to what is now called radical behaviorism. It was this new outlook that Watson claimed would lead psychology into a new era. He claimed that before Wundt there was no psychology, and that after Wundt there was only confusion and anarchy.

It was Watson's new behaviorism that would pave the way for further advancements in psychology. Watson's behaviorism rejected the studying of consciousness. He was convinced that it could not be studied, and that past attempts to do so have only been hindering the advancement of psychological theories. He felt that introspection was faulty at best and awarded researchers nothing but more issues.

He pushed for psychology to no longer be considered the science of the "mind". Instead, he stated that psychology should focus on the "behavior" of the individual, not their consciousness.

Sumber Kedua Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak kerasadanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu.

Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.

Watson pada tahun yang menganggap psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti : observasi, conditioning, testing, dan verbal reports. Teori utama dari Watson yaitu konsep stimulus dan respons S-R dalam psikologi. Stimulus adalah segala sesuatu obyek yang bersumber dari lingkungan. Sedangkan respon adalah segala aktivitas sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi.

Pemikiran Watson menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme berikutnya. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak- anak dan orang dewasa.

Dengan demikian, untuk mengaktifkan anak dalam belajar dibutuhkan motivasi. Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi denganstimulasinya.

Dalam penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis binatang, yaitu anak ayam, anjing, ikan, kucing dan kera. Percobaan Thorndike yang terkenal ialah dengan menggunakan seekor kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh.

PSICOFARMACOLOGIA STAHL PDF

teori-belajar-behavioristik-penerapannya-dalam-pembelajaran.ppt

.

ACI 306R-10 PDF

.

LOSI 8IGHT MANUAL PDF

.

BAHAN AJAR BIOLOGI MOLEKULER PDF

.

Related Articles